Saat Aku Merindukan Batam


Tulisan ini saya dedikasikan untuk para perantau dimanapun berada, apapun itu, sahabat disana adalah keluarga baru untuk kalian..

Curhat, 14 Januari 2013.

Hari ini nano-nano rasanya. Tak terasa sudah kurang lebih 8 bulan ‘menganggur‘, menganggur karena tidak bekerja di luar rumah. Menyesal? Tidak. Dan karena hari ini kakak saya diterima di pulau yang sama bekas saya bekerja dulu, saya pun jadi ikut galauuu..karena teringat kenangan-kenangan disana. Duuhh, (>,<)

boneka kenangan di Batam..

boneka kenangan di Batam..

Masih segar di ingatan, saat pertama bisa bekerja, menikmati hasil jerih payah sendiri dan lain sebagainya. Masih ingat anak baru kemaren sore, terbang kesana kemari mencari pekerjaan. Galau dan galau karena ditolak banyak perusahaan lantaran umur yang belum cukup untuk bekerja. Namun saat itu, saya tidak patah semangat.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (bener ga yah?) menjadi tujuan utama saya untuk mencari pekerjaan. Intinya saya ingin merantau, pergi ke pulau seberang. Dimulai dari perjuangan memilih perusahaan mana yang bagus, mengikuti test-test sampai wawancara, sampai galau mau ikut apa tidak dalam rekruitmen perusahaan tersebut. Galau hanya bisa dinikmati pada saat mau medical check up. Karena setelah proses itu, lolos atau tidak kita harus pasrah. Kalo lolos ya wajib berangkat (karena medical check up bersifat mengikat dan kalo mau membatalkan ya harus ganti rugi sebesar biaya medical check up) dan kalo ga lolos, ya meringis aja deh, mengingat proses medical check up yang kadang bikin orang trauma.😀

Emang medical check up itu diapain aja sih?

Emm, saya waktu itu juga ga tau apa itu medical check up. Setau saya ya pemeriksaan kesehatan gitu deh. Tapi setelah mengalami prosesnya, dulu saya sempat ga mau lagi di begituin. Loh emang diapain?

Hari itu memang jadwal saya dan teman saya mengikuti medical check up, setelah proses test user dari perusahaan dan juga test wawancara yang melelahkan (karena harus ke Klaten, dan rumah saya ada di puncitnya Bantul). Rasanya saya tidak mau merelakan perjuangan saya menguap begitu saja. Jadilah saya bertekad harus lolos. Masa’ sejauh itu saya tidak lolos? Hoho..

Berbekal alamat yang kurang jelas, dan juga pengetahuan mengenai tempat dan jalan yang kurang memadai, saya berdua mengendarai sepeda motor. Tanpa SIM, hebat bukan?!😀 Kami berkeliling sampai ke Candi Prambanan. Haha, padahal tempat kliniknya itu ada di sekitaran Janti kalo ga salah. Waktu itu juga sempat srempetan dengan motor lain, gara-gara mau belok tapi grogi. Untung saya berdua ga kenapa-napa. Lumayan heboh juga, karena dua pengendara hampir saja disamber truk tronton yang gede banget. Huuffft saya merinding kalo ingat kejadian itu.

Dengan keadaan panik, trauma dan motor yang lampu rating-nya pecah, saya kembali melanjutkan pencarian dimana si klinik berada. Dan ajaib! Ternyata tempat itu sudah kami lewati berkali-kali tadi. Huuuhh, berasa saya ini bodoh waktu itu. Ketemu dengan klinik itu sudah sore, padahal saya berangkat pagi jam 7. Bayangkan, betapa saya cuma muter-muter doang selama pagi itu.

Dan, jrenngg jrenggg…tibalah saat medical check up yang menegangkan. Dimulai dari cek tekanan darah, berat badan, tinggi badan, periksa telinga, juga ambil darah,  tes urine juga rongsen. Duuhh, serasa ditelanjangi. Tapi memang ditelanjangi, dan itu bikin saya trauma😦

Disuruhlah buka baju, diperiksa pusarnya, dll. Bayangkan, disuruh melepaskan semua baju kecuali celana dalam!! Ooohh tidaaaaakkk!! Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga proses pemeriksaan, ga bisa lebay-lebay-an. Beruntung sih, yang meriksa masih sesama jenis. Tapi tetep saja ngeriii. Segitu aja deh cerita medical-nya. Ngeri saya kalo inget..

Setelah proses medical check up-nya selesai, kami pulang. Huuff, perjuangan yang melelahkan. Tapi whatever, semoga lolos! Itu harapan saya.

Benar saja, beberapa hari kemudian diberi kabar lewat SMS kalo saya lolos. Teman saya juga. Huufft, lega rasanya. Eiitss, tapi galau ga cuma sampai disitu. Rasa sayang untuk pergi mulai merajuk, hehe. Alias galau lagi!! Ga mau pergi dan ga tega rasanya pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Jauh dari rumah lagi dan juga terikat kontrak 2 tahun. Lamanyaaaa… huhuhu.

Ya, begitulah dilema saya waktu itu. Ketakutan-ketakutan yang biasa dirasakan, seperti pertanyaan “saya disana betah ga?” “kerjanya gimana, orang-orangnya gimana, dll”

Singkat cerita, mulailah perjuangan di pulau seberang. Berangkat tanggal 9 Juni 2010. Perjalanan darat dan laut yang pertama saya alami, tidak bersama keluarga, tapi dengan teman baru yang seperjuangan.

Batam pun di depan mata…setelah tiga hari perjalanan.

dormitory/asrama

dormitory/asrama

Hidup di asrama yang disebut dormitory, ranjang tingkat, lemari satu untuk berdua, asrama berada di lantai dua, sekamar ber-16, keramaian kamar, rebutan kamar mandi yang cuma ada 4kamar, antri masak, piket harian dan tentu saja: bekerja.

Awalnya tentu asing, saya saja nyampe sana nangis ga ketulungan. Karena dulu sebelum pergi handphone dirumah cuma ada satu dan itupun dibawakan untuk saya, jadi dirumah ga ada hape. Nelponlah tetangga, nangis ga bisa ngomong, cuma sesunggukan ga karuan. Maklum, namanya juga pertama ngrantau.

ranjang tingkat..

ranjang tingkat..

Teman sekamar asyik-asyik semua. Beda tempat asal, ada yang dari Kebumen (ketularan ngapak), Purworejo, Solo, Sragen dll. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Hidup ditengah banyak anak orang, yang tidak selamanya sejalan dengan kita, beda pendapat, beda pemikiran dan tentu saja beda kebiasaan.

Karena terbiasa sejak jaman sekolah, saya biasa bangun subuh, bikin sarapan dan mandi pagi lebih awal. Jadi yang lainnya belum bangun saya udah rapi jali, sudah sarapan, mandi dan juga dandan. Kadang waktu pagi saya gunakan untuk nonton berita ataupun pengajian di tivi (fasilitas asrama ada tivi, kulkas, kompor, kipas)

bahan utama saya bekerja..hehe

bahan utama saya bekerja..hehe

Pekerjaan saya disana lumayan enak, malah bisa dikatakan enak bangeeeett..hehe. Gimana engga, kerjaan cuma ngecek barang jadi, padahal barangnya cuma ada 3jam sekali baru keluar. Sungguh, dulu saya pikir saya makan gaji buta, saking banyak nganggurnya. Hehe.

Di line kerja saya juga punya rekan-rekan kerja, semua menyenangkan. (Jadi kangeenn😥 ) Dan persahabatan seperti itu saya sangat menikmati, persaudaraan dan juga perhatian seperti keluarga buat saya. Huhuhu…

 

 

didepan PT saya dulu...

didepan PT saya dulu…

sahabat sekamar saya..

sahabat sekamar saya..

sahabat saya..

sahabat saya..

hang out bareng..

hang out bareng..

Dan begitulah selama dua tahun, waktu yang singkat menurut saya. Karena saya menikmati, dan menjalaninya dengan senang hati. Maka galaupun terjadi lagi beberapa bulan sebelum saya end contract. Dan menurut saya galau itu tidak sembarang galau. Cobaan menurut saya, atau malah godaan?

Gimana engga, mulai dari promosi jabatan (setingkat lebih tinggi dari operator produksi biasa), kenaikan gaji karena prestasi kerja, ikut presentasi yang harus nyambung kontrak lagi kalo menang (untung saya kalah, hehe padahal hadiahnya ke Hongkong), langsung bisa jadi karyawan permanen (tetap), dan tentu saja sahabat-sahabat saya yang sangat saya cintai. Hiks, serasa kembali ke waktu itu….

Akhirnya. istikhoroh pun dilaksanakan. Pilih pulang atau nambah kontrak. Huuffft, pilihan yang sangat berat bagi saya. Tapi prinsip saya waktu itu adalah saya harus melepaskan satu yang saya genggam. Dan yang mana yang saya lepaskan? Pekerjaan atau pinangan???

Pilihan jatuh pada pernikahan. Keputusan sudah siambil dengan segala pertimbangan dan tentu saja ke-mewek-an saya. Tanggal sudah jadi, tanggal pulang sudah pasti dan mewek lagi juga sudah pasti. Waktu itu saya yakin, meskipun saya meninggalkan pekerjaan yang saya cintai, bagi saya menjadi seorang istri adalah kesempurnaan tersendiri bagi wanita. Jadilah saya putuskan untuk menikah.

Tanggal pulang adalah 29 Mei, menikah tanggal 9 Juni. Tepat 2 tahun saya pergi. Sungguh cantik, menikah di usia 19tahun 7bulan, masih muda. Hehe..

Dan sekarang…

8 bulan sudah…meninggalkan kenangan-kenangan manis bersama sahabat dan keluarga disana. Di tanah perantauan yang akan dipijak oleh kakak saya besok Jum’at. Saya rindu sekaliii… (mewek beneran)

Dan ternyata seperti itu, punya saudara baru, seiman dan seperjuangan, sama-sama merantau dan hidup mandiri di tanah orang. Pengalaman yang sangat mendidik, toleransi yang tinggi, menghormati perbedaan, serta kemandirian yang diuji saat kita jauh dari keluarga yang kita sayangi.

Jadi pesan saya, dimanapun kalian berada, nikmatilah! Dan jalani dengan senang hati serta dengan niat yang ikhlas karena Allah.

Dear My Lovely Friends…

Aku tetap mengingatmu, meskipun kita berbeda kota, berbeda tempat..

Tapi satu, seperti yang kupamitkan padamu,

Persahabatan akan tetap ada…diantara kita.

I Miss You Full...

I Miss You Full…

Huhuhu,,,udah ah…saya jadi kangen pengen kesana lagiii….

#nostalgia kenangan Batam 2010-2012

8 thoughts on “Saat Aku Merindukan Batam

  1. ada cerita dari teman ttg medical tes yg cuma porno2an adja loh… Pt di kawaasan muka kuning. menurut kamu gmn?

  2. walawe kanina lah kenot tahan, hari ini saya baca tulisan ini mewek lagi, trenyuh mbrebes mili adus luh, bergelinang air mata ane tak dapat aku bendung lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s