Hamil, Sensitif atau?


Tak terasa, sudah hampir 24weeks usia kehamilan yang saya jalani. Berbagai macam perasaan dan juga perubahan-perubahan sudah lalu lalang terjadi. Terutama masalah kepekaan perasaan yang kadang bikin keki sendiri. Seperti yang orang lain katakan pada umumnya, bahwa wanita hamil itu lebih peka dan lebih sensitif. Mengenai perasaan ini, saya juga tidak luput terkena efeknya. Bukan menyalahkan hamilnya sih, tapi menyalahkan menejemen hati saya sendiri. Kapan harus sensitif dan kapan harus normal dan biasa saja.

Kehamilan ini membuat saya harus benar-benar bisa mengontrol emosi dan perasaan yang cepat sekali berganti. Mood yang cepat berubah, semenit senang tapi semenit kemudian galau. (-_-‘) Sungguh mengganggu ketentraman hati saya sendiri jika saya terus-terusan memanjakan perasaan saya. Ya, memanjakan perasaan. Merajuk karena bosan, mengeluh karena jenuh, dan sebagainya. Itu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Kadang saya merasa saya ini terlalu manja, selalu membeberkan perasaan saya kepada suami saya. Seharusnya saya sendiri harus bisa memilah, mana yang harus dikeluhkan dan mana yang tidak (sebenarnya tidak harus mengeluh).

Perasaan peka dan gampang tersentuh membuat saya sering merasa sendiri, sendiri karena memang posisi saya yang ‘hanya’ seorang istri (‘hanya’ bukanlah sekedar kata ‘hanya’). Saya malu, selalu menggantungkan diri kepada suami, selalu mengeluh, padahal suami tidak pernah memarahi dan memprotes saya. Sungguh menyebalkan, mengingat saya bersikap manja, seolah-olah hanya ada saya di dalam pikiran suami.

Apakah itu efek dari hamil?

Entahlah, yang saya pahami hamil atau tidak seharusnya kita wajib memenejemen hati kita, perasaan kita agar selalu terjaga dari fikiran-fikiran yang kadang menjerumuskan kita ke dalam prasangka. Semakin lama saya menyadari bahwa usia saya ini semakin tua, bukan semakin muda. Jadi sudah seharusnya saya berusaha mendewasakan diri dan membijaksanakan diri dalam menyikapi segala hal. Dan saya sadari bahwa semua itu butuh proses, proses untuk berubah menjadi yang lebih baik.

Satu lagi pelajaran bagi saya sendiri, bahwa hamil bukanlah alasan untuk kita meminta segala sesuatu yang kita inginkan. Bahwa hamil adalah proses belajar, untuk menjadi wanita yang terbina hati dan dirinya sendiri.

#16 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s