Seandainya Bisa Memilih..


family
Bicara mengenai orangtua kita memang tidak ada habisnya. Baik dan buruk tergantung si anak sendiri yang menilai. Ya, saya hanya ingin membicarakan dari sisi anak menilai, tentang bagaimana hasil didikan orangtuanya yakni si anak itu sendiri. Sekarang mari kita bicara, jika sang anak hidup dalam didikan orangtua yang sepenuhnya mengerti dan paham akan potensi si anak, mungkin kata broken home tidak akan menghinggapi si anak. Tapi kalo sebaliknya?

Ini adalah pemikiran murni saya sebagai anak, merenung dan memahami bagaimana proses saya tumbuh, dari kecil hingga sebesar sekarang. Memang seperti kata bijak yang banyak dilontarkan orang; Kita tidak bisa memilih orangtua, atau petikan lirik nasyid ini ‘Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa’. Disinilah saya akan memulai.

“Seandainya bisa, aku memilih orangtuaku sendiri. Tentu aku akan memilih orangtua yang baik, yang sempurna dalam mendidikku sebagai anak. Yang taat beragama, bla bla bla…”

Memang sangat tidak mempunyai rasa hormat jika kita menginginkan bisa memilih seperti apa orangtua yang kita harapkan. Kita lahir dan besar seperti sekarang ini seharusnya sudah bisa mensyukuri. Karena orangtua telah mendidik dan membesarkan kita. Namun bagaimana jika didikan itu tidak tepat? Bagaimana jika metode pengajaran pada anak ini salahSebagai anak tentunya kita harus berterimakasih pada orangtua kita yang telah bersusah payah membesarkan kita. Seperti apapun bentuk pengajaran orangtua yang diberikan kepada kita, kita harus berterimakasih.

Bagi yang terlahir di lingkungan keluarga dan orangtua yang baik, segala sesuatunya mungkin akan baik-baik saja. Tapi disini saya akan membicarakan bagaimana jika sebaliknya? Kondisi yang memprihatinkan untuk si anak itu sendiri. Cerita saya ini bukan untuk membuka aib keluarga saya sendiri, tapi tujuan saya adalah menguraikan dan menjabarkan betapa pentingnya dan berapa besarnya dampak trauma pada anak broken home. Semoga tidak salah kaprah dalam menilai.

Saya adalah anak kedua dari lima bersaudara. Saudara saya yang tiga adalah perempuan, dan ada satu anak laki-laki yaitu adik pas dibawah saya (anak tengah). Dari kecil saya menganggap keluarga saya kurang dan bahkan jauh dari ajaran agama. Sangat jauh, sehingga mungkin sampai dewasa masih membekas ingatan-ingatan buruk di masa kecil. Sebenarnya simbah dari ibu saya menurut saya adalah orang yang rajin beribadah dan dulu saya suka nginep di tempat simbah. Masa kecil saya sama dengan anak-anak di lingkungan sekitar rumah saya. Anak biasa dan tidak terlalu ‘ekstrim’ dalam ibadah. Bagaimana tidak, ajaran sholat sepertinya bukan hal wajib di lingkungan saya. Semua tergantung si anak itu sendiri. Padahal dalam hal ini peran orangtua sangat dibutuhkan, bahkan seharusnya orangtua wajib mengajarkan hal ini pada keluarganya.

Saya di masa kecil tumbuh layaknya anak-anak lain, biasa dan tidak menonjol. Agama juga tergolong minus, sholat sak karepku dewe (seenak saya). Karena orangtua saya bukan penganut agama islam yang taat (maksudnya biasa-biasa saja, seperti kebanyakan tetangga saya, islam KTP) jadilah saya terbiasa dengan keadaan seperti itu. Tapi jaman kecil saya pernah mengikuti TPA di dusun, jadi setidaknya saya tidak buta baca Al Quran, dan alhamdulillah saya juga bisa khatam lancar membaca Al Quran. Sekolah pun saya berada di sekolah agama, Muhammadiyah, yang mau tidak mau harus tahu menahu tentang seluk beluk agama. Rasanya saya lebih banyak menyerap ilmu agama dari sekolah dan bukan dari keluarga maupun lingkungan.

Semasa kecil saya menganggap hidup saya adalah wajar, lumrah seperti kebanyakan anak. Hanya saja keluarga saya bukan keluarga yang bisa dibilang harmonis. Yang bapak dan ibunya saling menghormati, mengasihi dan sebagainya. Keluarga saya keluarga ‘biasa’ yang kadang ada ‘celotehan’ kasar terdengar di telinga. Masa kecil saya dan kakak serta adik saya sudah puas mendengar kata-kata yang seharusnya tidak diperdengarkan kepada anak-anak. Tapi sekali lagi, kami sudah biasa, dan belum menyadari bahwa hal itu ternyata membawa dampak yang besar di kemudian hari.

Bertahun-tahun puas dengan ‘drama’ keluarga yang disuguhkan oleh orangtua saya membuat saya kebal dengan kata-kata yang begitu lah. Dan kami menjalani hari-hari kami seperti itu. Saat itu kami belum bisa menilai dan memahami apa yang terjadi pada keluarga kami, sehingga kami mulai biasa dan terbiasa.

Usia pun semakin bertambah, semakin dewasa, dan akhirnya menyadari. Bahwa kami tidak telahir dari keluarga yang baik dan harmonis. Mungkin itulah efek dari apa yang kami peroleh di masa kecil, trauma kasih sayang. Saat saya sudah bisa memahami kondisi sekitar, dan banyak menyerap ilmu dari para psikolog keluarga, saya sadar cara yang dilakukan oleh orangtua saya untuk mendidik kami adalah salah. Kami dibiarkan tumbuh untuk mencari jati diri sendiri, tanpa paksaan dari orangtua. Paksaan disini maksud saya adalah bimbingan agama yang wajib diberikan oleh orangtua kepada anaknya. Karena bagaimanapun anak adalah cerminan orangtua, anak adalah hasil dari orangtua, anak adalah hasil karya lukisan bapak ibunya.

Semenjak mengerti dan memahami kondisi keluarga yang amburadul seperti itulah, saya dulu merasa malu mempunyai orangtua dan keluarga yang amburadul juga seperti itu. Saya jadi tidak pede ketika bercerita tentang lingkungan keluarga. Bahkan dulu saya pernah merasa menemukan keluarga yang nyaman saat saya berada di rumah teman saya. Ini menurut saya adalah hal miris yang pernah saya alami sendiri.

Saya malu punya orangtua yang tidak menjalankan perintah agama, saya malu karena bapak saya suka hutang dan perilaku buruk lainnya. Hal itu membuat mindset saya mengatakan bahwa orangtua itu bukanlah teman dekat yang baik dan menyenangkan. Bagaimana mau menyenangkan, saya ngomong sesuatu sama orangtua saja masih ndak-nduk.

Pertengkaran-pertengkaran yang kerap saya dan saudara saya dengar sepertinya telah membuat kesan tersendiri di hati kami masing-masing. Trauma jelas sekali ada dalam kehidupan kami. Contohnya kami tidak dekat dengan bapak, dan juga takut kalo mau negur atau bagaimana. Begitulah masa kecil kami.

Sekarang saya bisa menilai dan memahami berbagai kemungkinan kenapa orangtua saya bisa seperti itu;

1. Salahnya praktek pacaran di masa lalu

Saya pernah diceritain sama ibu, bahwa masalalu pacarannya adalah mengerikan. Malah menurut saya parah. Kecintaan ibu saya terhadap bapak mungkin terlalu menggebu-gebu, sehingga pada saat memutuskan untuk menikah ibu saya kurang memahami apa arti menikah dan berumah tangga yang sebenarnya. Karena sebenarnya menikah itu adalah suatu langkah besar dalam hidup, yang menentukan sisa hidup kita akan kita habiskan dengan siapa. Mungkin karena niat dan keyakinan yang kurang yang membuat hubungan bapak dan ibu saya kurang romantis. Maka disinilah saya memandang pacaran itu tidak menjamin keharmonisan rumah tangga di masa depan. Karena pasangan itu tabiat aslinya terlihat perlahan-lahan. ‘Boroknya ga ketahuan pas pacaran’.

2. Kurang dewasanya kedua pihak dalam memahami permasalahan rumah tangga.

Saya sebenarnya masih amatir dalam memahami hal seperti ini, tapi bagaimanapun saya sudah menikah, dan sedikit-sedikit sudah mengerti hal-hal semacam ini. Semenjak kecil saya tidak pernah menyaksikan ibu saya menyalami takzim bapak saya, tidak pernah menyaksikan bapak saya menunjukkan kasih sayang pada ibu di hadapan kami, dan hal-hal romantis dalam keluarga lainnya. Makanya setelah saya menikah mesra-mesraan sama suami masih sedikit kikuk, karena malu dan belum terbiasa. Dan orangtua saya sering bertengkar dan tak jarang pula ibu saya menangis, sungguh saya masih mengingat jelas kejadian-kejadian di masa kecil, yang meninggalkan bekas luka tersendiri di hati saya. Bagaimanapun saya adalah perempuan, dan saya juga tidak akan tega melihat ibu saya menangis, di dzolimi, bahkan dimadu. Saya sungguh terluka, dan itu juga pasti terjadi dengan saudara-saudara saya yang lain. Maka jadilah kami menjadi tidak simpati dengan bapak kami, bahkan cenderung takut dan tidak suka dengan bapak.

Menilai bagaimana mereka mengatasi permasalahan rumah tangga yang masih seperti anak kecil, tidak ada yang mau mengalah dan mengayomi. Permasalahan yang selalu kami nilai sebagai hal biasa, saking terbiasanya.

3. Kurang melibatkan Allah dalam keluarga.

Bagaimanapun juga Allah adalah pilar hidup umat muslim, tempat mengadu dan meminta, tempat berkeluh kesah dan meminta pertolongan. Begitu setidaknya sekarang saya memahami betapa pentingnya peran Allah dalam kehidupan, apalagi dalam rumah tangga dan keluarga. Mengenalkan tauhid kepada Allah dalam keluarga adalah sangat penting, karena mempengaruhi iman si anak dalam keluarga. Meskipun sudah mengenal Allah, tapi mengenal ini hanyalah sekedar untuk formalitas, saya tidak merasakan kehadiran Allah dengan benar-benar mengerti di masa kecil. Masalah finansial yang sering menghinggapi keluarga saya seharusnya bisa ditanggapi dengan ikhtiar dan tawakkal kepada Allah, berusaha dan berserah kepada Allah Sang Pemberi kehidupan. Tapi tidak bagi keluarga saya, penanggulangan masalah yang menurut saya ‘ngoyo’.Ketika tunggakan sekolah yang menumpuk, bapak cari hutang kemana-mana untuk menutupi kebutuhan. Padahal saat itu mungkin kami hanya butuh lebih dekat dengan Allah, dan meminta pertolongan kepadaNya. Tapi mungkin lumrah kepanikan orangtua yang pas-pasan yag belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga segala sesuatunya terkesan dikejar-kejar kehidupan membuat kami lupa bahwa sebenarnya Sang Pemberi itu adalah dekat, tinggal bagaimana kita meminta padaNya.

Kurangnya tempat bagi Allah dalam keluarga kami begitu terasa, kehidupan yang semakin hari semakin menggila membuat kami lupa hakikat hidup sebenarnya, yaitu beribadah. Bersyukur atas rahmatNya saja jarang kami lafadzkan, apalagi memahami cobaan yang bertubi-tubi yang melanda keluarga saya. Pandangan yang tidak pernah menunduk, selalu mendongak melihat orang lain yang lebih sukses dan kami berusaha menjadi seperti yang kami lihat pada saat kami mendongak. Sungguh kami bukanlah ahli syukur. T.T

Mungkin masih banyak hal-hal lain yang masih belum bisa saya jabarkan, tapi dalam hal ini mungkin sudah mencukupi alasan-alasan yang membuat keluarga tidak berjalan harmonis, apalagi sakinah, mawaddah dan wa rohmah.

Kembali ke kondisi anak dalam pertumbuhan psikologinya, bahwa kejadian masalalu bisa membawa dampak di masa depan.

Belajar Menemukan Jati Diri Sendiri

Setelah sekian lama berkutat dengan kehidupan keluarga saya yang seperti itu, saya berusaha menerima dan mengganti mind set saya bahwa keluarga adalah anugerah dan penting bagi kita sebagai anak untuk mengubah keadaan keluarga menjadi baik. Meskipun itu sangat sulit, mencoba berkomunikasi dengan lembut, menerapkan prinsip kita yang membutuhkan Allah, dan bukan Allah yang membutuhkan kita. Hal itu saya lakukan karena saya sadar bahwa kita tidaklah bisa memilih orangtua, tidak bisa memilih orangtua yang sesuai dengan keinginan kita. Yang harus saya lakukan adalah mengubah kebiasaan-kebiasaan orangtua saya yang dulu telah membuat saya trauma besar dan bukan malah menyalahkan orangtua karena saya tumbuh menjadi seperti ini.

Kami sudahlah dewasa, saya dan saudara-saudara saya bisa merasakan dan memahami keadaan keluarga saya. Dan hebatnya bahwa kejadian masalalu telah membuat peran rumah dalam hati kami hilang. Pergi mencari kerja di luar/merantau adalah cita-cita kami. Kesannya kami hanya ingin mengubah karakter diri, jati diri yang masa kecil kami sudah rusak duluan. Sehingga pergi dari rumah adalah pilihan yang kami pilih. Berharap dengan tidak adanya saya dan kakak saya dirumah bisa membuat kehidupan keluarga saya sedikit demi sedikit membaik. Kami bisa membantu finasial keluarga dan juga meringankan beban psikologis orangtua kami. Begitulah harapan kami.

Ilmu yang saya peroleh dari luar setelah saya merantau membuat saya sadar, bahwa orangtua kita adalah keluarga kita, bukannya harus saya jauhi karena didikannya yang salah kepada saya, tapi justru harus saya bimbing supaya cara mendidiknya benar sehingga tidak menimbulkan trauma yang sama kepada adik-adik saya. Kembali menanamkan pentingnya Allah dan iman kepadaNya dalam pilar keluarga.

Melakukan hal itu tentu saja bukanlah hal mudah, komunikasi-komunikasi yang menyinggung hal sensitif sangatlah harus berhati-hati. Orangtua bukanlah anak kecil yang ketika kita mengajari dengan mudah akan diserap. Kita harus berhati-hati dan menghilangkan kesan menggurui dalam mengubah kebiasaan orangtua, apalagi dalam hal agama. Karena sudah menjadi kwajiban anak untuk selalu mengingatkan orangtua dalam hal agama dan kebaikan.

Setidaknya itulah solusi yang sedang kami usahakan sebagai wujud cinta kasih kami terhadap keluarga, ingin sekali menerapkan prinsip keluarga sakinah meskipun orangtua kami bukanlah pasangan yang baru menikah.

Dan dari pengalaman yang saya alami itulah sekarang saya ingin menerapkan metode yang berbeda pada keluarga baru saya. Tentunya segala sesuatu ada hikmahnya, dan tentu saja hal ini menjadi pembelajaran berharga bagi saya untuk bisa memperbaiki dan berusaha untuk tidak jatuh di lubang yang sama.

Maka pentingnya sistem parenting yang tepat bagi anak dan keluarga sangatlah perlu dipelajari oleh para pemeran keluarga, para pasangan baru, maupun yang akan menentukan pasangan. Anak adalah investasi orangtua, didikan orangtua sangat berpengaruh untuk masa depan anak. Oleh karena itu, tetaplah belajar meskipun keadaan tidak sesuai dengan harapan kita.

Ikan hidup di air asin, tapi dagingnya tidaklah asin. Bolehlah lingkungan dan keluarga tidak baik, tapi jangan sampai kita menjadi tidak baik pula. Jangan terbawa arus, jangan pula mengikuti arus, tapi ciptakanlah arus kehidupan yang baik, untuk diri dan lingkungan yang baik.

Iman adalah mutiara di dalam hati manusia
Yang meyakini Allah Maha Esa Maha kuasa
Tanpamu iman bagaimanalah berasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagaimanalah menjadi hamba Allah yang bertakwa
Iman tak dapat di warisi dari seorang ayah yang bertakwa
Ia tak dapat di jual beli Ia tiada di tepian pantai
Walau apapun caranya jua, engkau pendaki gunung yang tinggi
Engkau perentas lautan api namun tak dapat jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah
(Raihan_Iman Mutiara)

Bogor, 27 Januari 2013

11 thoughts on “Seandainya Bisa Memilih..

  1. Senasib, bhkn tak prnah sekali sj mlht org tua sholat. Anak2nya mlh mncari pndidikan agama dr luar. Tp itu tak mmbuat kami anak2nya mnjdi durhaka. Mgkn itu slah didik dr kakek nenek, org jaman dlu. Kata2 kasar sdh jd mknn shari2. Kami pham cara didik ortu blm tepat. Mnurutq jstru org tua adlh ladang dakwah yg paling dekat. Kami brsha meluruskan dgn baik2, tnp brmaksud menggurui. Dmulai dgn mmbri contoh, n kdg mnghadirkan sahabat2 sy yg lbh alim krmh, agar org tua terketuk hatinya. Sya ga mau org tua sya msk neraka krna ga prnah sholat n puasa. Semangat berdakwah.

  2. Ping-balik: Seandainya Bisa Memilih.. | Ruang Cahaya (^.^)/

  3. kisahnya sama, saya laki2. lebih introvert.. susah menceritakan dgn org lain/ mengajak teman curhat. akhirnya dipendam sendiri.. sgt sedih. sampai skrg bekerja dan kuliah. masih belum bisa berdamai dengan kehidupan masa kecil yg kelam dlm keluarga. saya mau pergi, tp tidak tega dengan ibu saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s