Pacaran atau Menikah?


cincinHoho, judul yang sangat sensitif buat para galauers sejati, hihi apalagi yang lagi pacaran. Nah lho?

Kenapa sih harus pacaran?

Saya pribadi menyesal pernah pacaran, meskipun pacar saya sekarang sudah sah menjadi suami saya. Tapi ada sesuatu hal yang terasa ‘hilang’ dan sepertinya sudah saya nikmati selama masa pacaran, yaitu keromantisan. Bukan menyesali, tapi saya sudah berusaha benar-benar taubat dan tidak akan mengulanginya lagi (ya iyalah, orang udah nikah, masa mau pacaran lagi?)

Benar seperti hukum islam, bahwa pacaran tidak ada dalam kamus islam. Yang ada adalah ta’aruf (pendekatan pra nikah). Saya tidak akan berbicara mengenai dalil-dalil atau ayat Allah tentang ini, tapi saya hanya akan menjabarkan kondisi kebanyakan orang yang mengawali pernikahannya dengan pacaran.

Ya, siapa sih yang ga pernah ngrasa berbunga-bunga kalo lagi jatuh cinta? Di gombalin ini itu dll yang bikin hati jadi klepek-klepek. Setiap hari dikirimin sms ngingetin makan, tidur dan aktivitas yang lainnya. Perhatian gitu deh. Bibir bisa aja tuh bohong demi ‘kemanisan’ gombalannya. Haha, belom tau deh kalo udah nikah jadi gemana…

Sekarang simpel aja..

Pernikahan itu ibarat suatu makanan dalam kemasan (menurut saya, soalnya mentok nyari peribaratan, haha). Bisa dibayangkan, apabila sebelum dibeli makanan tersebut dibuka dan dicicipi, tapi ingat, belum dibeli. Apa yang terjadi? Melempem. Ya, rasanya jadi tidak enak, kurang nikmat, ga renyah, intinya ga enak lah..namanya juga sudah ‘dibuka’ duluan.

Begitu pula dengan pernikahan. Kalo sudah pacaran duluan, akan tercuri ‘berkah’ pernikahan yang membuat rasa lengkap pernikahan berkurang. Tidak ada kesakralan tersendiri dalam pernikahan. Dan bahkan hanya dianggap sebagai pelulus pacaran. (-_-‘)

Mungkin banyak orang diluar sana menuliskan tentang pacaran, seluk  beluk lengkap dengan dalilnya. Tapi saya disini hanya sekedar berbagi tentang efek pacaran dalam kehidupan rumah tangga (tentunya habis menikah lho yaa).

Saya dan si Mas memang bukan aktivis dakwah, bukan umat yang taat seperti kebanyakan orang, bisa menikah dengan kisah ta’aruf-nya yang sepertinya sulit dipercaya tapi benar-benar terjadi (yang kadang bikin saya ngiri karena kisah pernikahannya, hihi). Perkenalan yang sudah cukup lama, meskipun saya ga mau di sebut pacaran. T.T. Komunikasi jarak jauh, saling mengingatkan (kok kayak pacaran islami kasusnya?) dan sebagainya tapi jarang bertemu. Hanya seperti itu (hadoh) saja saya merasakan ‘kecolongan’ besar loh dalam hidup saya. Perhatian yang seharusnya saya rasakan hanya setelah menikah, tapi sudah saya cicipi duluan. Rasanya memang tak jauh berbeda, hanya saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada rasa menyesal, kenapa saya tidak bisa sabar berpuasa seperti Fatimah Az Zahra, yang mencintai Ali dalam diam. Hiks… T.T

Yah, berbagi pengalaman yang tidak menyenangkan seperti ini membuat saya risih sebenarnya. Tapi biarlah, biar yang masih pacaran pada tobat! Haha..

Pernikahan itu bukanlah istana megah yang indah, yang berhiaskan kenikmatan-kenikmatan surga. Tapi pernikahan adalah sebuah bangunan, dan kita sebagai pembangunnya yang harus menentukan setiap detail material yang akan digunakan. Jangan bayangkan pernikahan adalah sebuah keindahan sejati, tapi pandanglah setiap yang terjadi dalam pernikahan adalah mutiara berharga. Karena tanpa belajar, pernikahan adalah sebuah angka nol besar.

nikah

Dan itulah yang harus dilihat para pasangan muda jaman sekarang. Bahwa pernikahan itu tidak sama dengan pacaran! Tidak sama. Mungkin banyak yang bilang kalo pacaran itu adalah latihan untuk saling memahami setelah menikah. Nah loh?

Memahami bukanlah hal mudah, dan kebohongan masa pacaran itu lebih mendominasi daripada kejujurannya. Mau bukti? Memahami selama pacaran itu cenderung ‘menuruti’ keinginan pasangan. Sementara memahami dalam pernikahan itu adalah ‘menerima’ kurang dan lebihnya pasangan. Dan yang unik nih, kebohongan selama pacaran itu selalu bisa dimaklumi. Haha, dan bahkan cenderung menjadi statement yang gini nih, “Wanita itu suka dibohongi”. Padahal bohong itu dosa loh, apalagi sama pacaran. Bedanya sama pernikahan, berbohong pada pasangan dengan alasan menambah keromantisan dan kelanggengan rumahtangga itu diperbolehkan, bahkan berpahala. Nah, pilih yang mana? Yang halal dan menentramkan, atau yang haram dan bikin galau terus?

Masa depanmu kamu yang menentukan.

Nah, apa mau nih kamu pacaran dulu? Tapi kan kalo belom pacaran kita ga ngerti sifat-sifat calon pasangan kita? Gimana dong?

Allah itu Maha Mempertemukan, Mengetahui sekecil apapun perasaan yang ada di hati kita. Dia yang membolak-balikkan hati manusia. So, tinggal keyakinanmu terhadap Allah. Yakin ga Allah bakal menumbuhkan cinta diantara dua hati hambaNya?

Kalo udah punya calon gimana?

Ya jangan lama-lama. Semakin lama menjalin sesuatu yang meragukan akan mengurangi keberkahan dari hal itu sendiri. Jangan jadikan hubunganmu menjadi boomerang bagi dirimu sendiri.

Kalo dulu pacaran tapi sekarang uda nikah gimana?

Banyak bertaubat, beristighfar (T.T) dan tanamkan dalam rumah tangga bahwa tidak akan membiarkan kisah kita terulang pada anak cucu kita nantinya. Cukuplah sebagai pembelajaran kita dan masa lalu yang tidak perlu ditengok lagi. Ingat, bahwa Allah Maha Pengampun, astaghfirullah…

Saya sendiri menyesali pacaran, meskipun saya tidak mencari-cari keborokan rumah tangga sendiri, tapi dibandingkan dengan banyak orang diluar sana yang menikah dengan syar’i, saya rasa pernikahan saya jauh dari mereka. Tapi bukanlah sesuatu yang harus disesali, karena pernikahan tetap berjalan, dan rumah tangga harus tetap berdiri kokoh. Maka dengan segala kerendahan hati, saya berpesan kepada mereka-mereka yang masih menggunakan metode pacaran sebelum menikah: PUTUS atau MENIKAHLAH! Cukuplah kami-kami yang sudah merasakannya yang mengalaminya

Apa gunanya bergombal-gombal ria yang menimbulkan amarah Allah, apa gunanya berkhalwat yang membuat Alllah murka. Sedangkan dijalan yang lain Allah telah menyediakan pernikahan, yang segala sesuatu didalamnya halal, menentramkan, dan membuat Allah ridho. Tinggal kamu pilih mana, pacaran atau menikah.

Kata Kata Mutiara Ulang Tahun Pernikahan

Dan akhirnya…koreksi saya apabila saya banyak salah. Ini adalah coretan gaje saya tentang pacaran. Awal tulisan ini karena saya merasa risih dengan orang yang lama pacaran ga nikah-nikah. Satu pertanyaan dalam diri saya saat itu: Apa ga bosen ya pacaran lama-lama? Ngapain aja sih??. Mungkin ada yang bisa menjawab? Hehe..

Demikian, dan sekian…😀😀

4 thoughts on “Pacaran atau Menikah?

  1. mba aku jeni, tadinya di awal januari kita taarufan gitu. ga ada jalan berdua atau saling kirimi2an message.. tapi setelah 3 bulan bahkan 7 bulan sampai sekarang ko jadi kaya pacaran ya? jalan berdua, piknik bareung, tapi kita ga pernah ketinggalan shalat atau halaqah sih. bahkan punya aturan bareung buat shalat malam, puasa senin kamis, n baca al-qur’an minimal 1 hari satu lembar. dia beda 2 tahun sama saya. saya baru 19 tahun sekarang. saya sudah akrab dengan ibu dan adiknya. rencananya 1 tahun 7 bulan lagi kita akan menikah dan akan berjarak jauh. karna mulai bulan depan dia pindah ke bandung sedang saya dibekasi. gimana nih menurut teteh kalau jadi saya?

    • Kalau jd mbak ya ga saya dilanjutin. saya udah pernah kyk gt mbak, n ga lagi2 deh. Godaannya berat. Mending tinggalkan n konsentrasi dg hal lain. Krn hub spt itu menyedot separoh perhatian kita. Itu menurut saya ya, maaf kalo tdk berkenan.

      Oya salam kenal n trimakasih sudah mampir.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s