Pawartos Lelayu


Innalillahi wa inna illaihi roji’un..

Maut memang tidak mengabarkan tentang kedatangannya. Malaikat Izrail hanya menjalankan tugasnya untuk menjemput manusia menemui Tuhannya.

Seperti pagii ini. Tak ada firasat tertentu kalo bakal ada sripah (kabar duka). Ada yang wafat, ibunda dari teman SMA saya. Beliau wafat karena kecelakaan, pagi ini sepulang dari pasar. Beruntung suaminya masih bisa selamat. Awal mendengar pawartos lelayu dari siaran masjid saya ga ngeh kalo yang wafat adalah Ibunda teman saya. Saya juga kenal, dan bahkan sering ngobrol waktu saya main ke rumah teman saya. Saya ga tau namanya, yang saya tau adalah wajah beliau. Wajah keibuan yang sangat baik dan kalem. Waktu mendengar siaran, saya pikir orang lain, atau orang berumur yang sudah bisa dimakumi kalo wafat/orang sakit lama.

Tapi usut punya usut, ternyata kok tetangga saya banyak yang ngaruhke (mencari kepastian dg datang berkunjung ke rumah almarhumah), dan pas saya nanya siapa yg wafat, pada jawab dg namanya tapi saya tetep ga ngeh, soalnya emang ga ngerti nama ibunda teman saya itu. Dan juga ga ngerti kalo wafatnya karena kecelakaan.

Ke-lemot-an saya berlanjut pas temen SMA saya yang lagi merantau telpon menanyakan berita tersebut. “Siapa yang wafat? Kok saya denger ibunya Mbak Asih..”. Saya cuma jawab ga tau, soalnya ga ada yg ngomongin. Saya jadi penasaran, soalnya yang wafat ini ga sedusun dengan saya, tapi dusun sebelah.

Penasaran saya terjawab sudah pas simbok pulang dari sawah. Benar, yang wafat emang ibunda temen saya. Innalillahi… Simbok saya cerita kronologis kejadiannya. Saya sampe mrinding dan tiba2 teringat wajah beliau waktu terakhir saya ketemu, pas seminggu sebelum saya nikah, sekitar 9 bulan lalu. Hanya bisa berucap, “Ajal emang ga ngerti ya mbok kapan datangnya dan dengan cara seperti apa, yang kita tau secepat itu wafat tanpa tanda2..”

Ya, seperti inilah kehidupan. Ajal bukanlah akhir perjuangan hidup, tapi awal dari kehidupan yang abadi. Kita kapan saja bisa dijemput, dipanggil menghadap Allah. Tapi masalah kita adalah: Sudah siapkah kita?

Kadang kita terlena dunia, sampai2 melupakan bahwa kita bakal mati, bakal meninggalkan dunia yang fana ini. Kadang saya pikir untuk apa numpuk2 harta berlimpah kalo cuma bakal kita tinggal mati. Dan ajalbkapan aja mengintai kita, kapan aja bisa menjemput kita. Maka dengan pawartos lelayu ini saya kembali tersentak dan kembali diingatkan, bahwa siapapun yang hidup pasti akan merasakan mati. Jadi, persiapkan bekal untuk mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Allah.

Apapun jalan kematiannya, semoga kita bisa mendapatkan khusnul khotimah. Aamiin.

#Sripah pertama semenjak di Jogja

One thought on “Pawartos Lelayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s