Pemimpin Cinta Kebersihan


Bismillaah..

Ini adalah sedikit cerita tentang pengalaman masa kecil suami saya. Tentang Ibunya yang kini juga menjadi ibu saya. Tentang bagaimana beliau menanamkan rasa disiplin dalam hal kebersihan terhadap keempat anak-anaknya. Saya tidak menuliskan hal yang spektakuler tentang peran seorang ibu bagi calon pemimpin. Bukan tentang hal besar dalam hidup, melainkan hal sepele yang mempengaruhi kehidupan di masa depan. Ya, saya akan menceritakan sebuah pengalaman serta pembelajaran bagi saya sebagai seorang ibu yaitu tentang menanamkan kebersihan semenjak kecil kepada anak.

Semenjak kecil suami saya selalu dibiasakan buang air kecil di kamar mandi. Bukan hanya suami saya saja, tetapi juga ketiga saudaranya. Ibu mertua saya sangat memperhatikan kebersihan anak-anaknya, termasuk mengenai hal buang air kecil. Beliau tidak mengajarkan anak-anaknya buang air kecil sembarangan, seperti yang terjadi pada anak-anak seumuran suami saya dulu. Ya, dulu (mungkin juga sekarang) banyak sekali anak-anak (khususnya laki-laki) bahkan orang dewasa buang air kecil di sembarang tempat. Di balik pohon, di balik semak-semak, dan tempat-tempat sepi yang lainnya. Saya pun juga tidak merasa heran atau merasa jijik ketika melihat fenomena seperti itu terjadi di lingkungan sekitar saya. Toh, memang seperti itulah kenyataannya.

Tapi kini, semua terasa berbalik. Saya menjadi jijik dan terkadang sangat menyayangkan, kenapa orangtua dari anak yang buang air kecil sembarangan tidak begitu memperdulikan kebiasaan sepele ini. Bahkan anak tetangga pun biasa buang air kecil di depan rumah. Hal sekecil ini sebenarnya sangatlah berpengaruh pada kesehatan dan kebersihan lingkungan. Jika hal ini terus dibiasakan, wajar saja jika lingkungan tertentu menjadi tidak sehat.

Penjelasan suami saya mengenai hal sepele ini selalu saya tanggapi dengan antusias. Karena saat ini saya mempunyai seorang anak laki-laki berumur 4 bulan. Dan karena saya tidak begitu paham dengan kebiasaan buang air kecil seorang laki-laki, jadi saya selalu antusias mendengarkan penjelasan beliau.

Dulu, ibu mertua saya sudah mulai mengajarkan Toilet Training (istilah lainnya; tatur) saat umur anak masih bayi, tepatnya setelah umur 40 hari. Menurut beliau, bayi 40 hari bukanlah bayi lagi, tapi sudah menjadi anak yang mengerti jika diajak komunikasi. Jadi ibu mertua saya selalu membawa anak-anaknya buang air kecil ataupun buang air besar di kamar mandi. Tidak ada istilah popok sekali pakai, ataupun Cloth diapers yang sedang marak dikalangan ibu-ibu muda. Saya heran, waktu beliau bercerita bahwa semua anak-anaknya sudah terbiasa buang air kecil/besar di kamar mandi sejak kecil. Bahkan pada saat buang air besar pun waktunya sudah teratur, setiap pagi hari. Wow sekali saya mendengarnya.

Ditambah dengan pengetahuan agama ayah mertua saya yang begitu kuat, maka terbentuklah anak-anak beliau yang mengerti arti kebersihan bagi diri mereka sendiri. Peraturan yang tidak memperbolehkan seorang laki-laki buang air kecil sembarangan, apalagi sambil berdiri. Semua anak-anaknya sudah terbiasa bersih sejak kecil.

Dan kini, ketika saya sudah mempunyai seorang anak laki-laki, saya berusaha untuk mencontoh mertua saya. Mulai dari perlengkapan bayi yang tidak terlalu neko-neko, seperti stoller, bouncher, box bayi dll saya tidak menggunakannya. Sehari-hari Hafidz saya biarkan telentang di kasur kecilnya. Sejak umur 50 hari saya mulai memberanikan diri membawa bayi kecil saya buang air kecil di kamar mandi. Meskipun tak jarang saya merasa kecewa karena Hafidz tidak mau pipis. Tapi saya tidak putus asa, setiap berapa jam sekali saya selalu bawa dia ke kamar mandi. Setelah beberapa minggu membiasakannya pipis di kamar mandi, akhirnya Hafidz mulai terbiasa. Setiap kali saya bawa ke kamar mandi, dia lebih sering langsung pipis. Meskipun begitu, Hafidz juga masih ngompol. Tapi bagi saya ini bukan masalah, saya tidak lantas menggunakan pospak/clodi untuk Hafidz. Saya selalu membiasakan setiap pipis harus selalu cebok, karena kuman berasal dari air seni yang tidak dibersihkan. Maka dari itu sampai usianya 4 bulan ini, saya selalu saja keukeh untuk mengajarkan Toilet Training pada anak saya.

Kenapa hal ini begitu saya utamakan?

Semenjak kecil seorang anak harus selalu dibiasakan mengerti arti kebersihan bagi dirinya dan juga bagi lingkungan. Dan dari pengalaman mertua saya itulah saya menjadi terinspirasi. Saya tidak akan membiasakan anak saya menggunakan pospak ataupun clodi jika berada di rumah. Inilah tugas saya sebagai Ibu, mengajarkan hal sekecil ini di usianya yang masih kecil. Saya harap juga ibu-ibu yang lainnya membuang rasa malasnya untuk mengajarkan Toilet Training sedini mungkin kepada anak. Karena pada dasarnya Toilet Training hanya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan seorang ibu. Dari hal sekecil inilah dikemudian hari akan sangat bermanfaat bagi dirinya dan juga keluarganya kelak. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu memimpin dirinya sendiri.

Dan diantara ibu-ibu di seluruh dunia yang mengajarkan berbagai macam hal tentang kepribadian, maka saya memilih mengajarkan arti kebersihan sedari kecil. Itulah sekelumit cerita saya dan juga pengalaman mertua saya yang sangat menginspirasi saya. Berkat beliau lah kini saya sedang gencar meng-kampanye-kan Toilet Training semenjak dini pada bayi. Karena kebersihan inilah yang akan mempengaruhi kepribadian anak-anak di masa depan. Mengajarkan arti bersih sedari kecil diharapkan mampu membuat pemimpin-pemimpin masa depan yang mengerti arti kebersihan. Sehingga mampu menciptakan pribadi-pribadi bersih dan juga lingkungan yang bersih dan sehat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s